A. Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan
materi pembelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi siswa
sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan
dunia kerja, sehingga siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan
melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran yakni : kontruktivisme
(constructivism), bertanya (questioning), menyelidiki (inquiry), masyaraka
belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan
penilaian autentik (authentic assessment).
Makna dari kontruktivisme adalah siswa mengkonstruksi/membangun
pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada
pengetahuan awal melalui proses interaksi sosial dan asimilasi-akomodasi.
Implikasinya adalah pembelajaran harus dikemas menjadi proses
“mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan. Inti dari inquiry atau
menyelidiki adalah proses perpindahan dari pengamatan menjadi
pemahaman. Oleh karena itu dalam kegiatan ini siswa belajar menggunakan
keterampilan berpikir kritis Bertanya atau questioning dalam pembelajaran
kontekstual dilakukan baik oleh guru maupun siswa. Guru bertanya
dimaksudkan untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan
berpikir siswa. Sedangkan untuk siswa bertanya meupakan bagian penting
dalam pembelajaran yang berbasis inquiry. Masyarakat belajar merupakan
sekelompok orang (siswa) yang terikat dalam kegiatan belajar, tukar
pengalaman, dan berbagi pengalaman. Sesuai dengan teori kontruktivisme,
melalui interaksi sosial dalam masyarakat belajar ini maka siswa akan
mendapat kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, oleh
karena itu bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri.
Pemodelan merupakan proses penampilan suatu contoh agar orang lain
(siswa) meniru, berlatih, menerapkan pada situasi lain, dan
mengembangkannya. Menurut Albert Bandura, belajar dapat dilakukan
dengan cara pemodelan ini. Penilaian autentik dimaksudkan untuk mengukur
dan membuat keputusan tentang pengetahuan dan keterampilan siswa yang
autentik (senyatanya). Agar dapat menilai senyatanya, penilaian autentik
dilakukan dengan berbagai cara misalnya penilaian penilaian produk,
penilaian kinerja (performance), potofolio, tugas yang relevan dan
kontekstual, penilaian diri, penilaian sejawat dan sebagainya. Refleksi pada
prinsipnya adalah berpikir tentang apa yang telah dipikir atau dipelajari,
dengan kata lain merupakan evaluasi dan instropeksi terhadap kegiatan
belajar yang telah ia lakukan.
Alasan perlu diterapkannya pembelajaran kontekstual adalah :
- Sebagian besar waktu belajar sehari-hari di sekolah masih didominasi kegiatan penyampaian pengetahuan oleh guru, sementara siswa ”dipaksa” memperhatikan dan menerimanya, sehingga tidak menyenangkan dan memberdayakan siswa.
- Materi pembelajaran bersifat abstrak-teoritis-akademis, tdak terkait dengan masalah-masalah yang dihadapi siswa sehari-hari di lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja.
- Penilaian hanya dilakukan dengan tes yang menekankan pengetahuan, tidak menilai kualitas dan kemampuan belajar siswa yang autentik pada situasi yang autentik.
- Sumber belajar masih terfokus pada guru dan buku. Lingkungan sekitar belum dimanfaatkan secara optimal.
B. Penerapan Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran dikatakan mengunakan pendekatan kontekstual jika
materi pembelajaran tidak hanya tekstual melainkan dikaitkan dengan
peneapannya dalam kehidupan sehari-hari siswa di lingkungan keluarga,
masyarakat, alam sekitar, dan dunia kerja, dengan melibatkan ketujuh
komponen utama tersebut sehinggga pembelajaran menjadi bermaknabagi
siswa. Model pembelajaran apa saja sepanjang memenuhi persyaratan
tersebut dapat dikatakan menggunakanpendekatan kontekstual.
Pembelajaran kontekstual dapat diterapakan dalam kelas besar maupun
kelas kecil, namun akan lebih mudah organisasinya jika diterapkan dalam
kelas kecil. Penerapan pembelajaran kontekstual dalam kurikulum berbasis
kompetensi sangat sesuai.
Dalam penerapannya pembelajaran kontekstual tidak memerlukan
biaya besar dan media khusus. Pembelajaran kontekstual memanfaatkan
berbagai sumber dan media pembelajaran yang ada di lingkungan sekitar
seperti tukang las, bengkel, tukang reparasi elektronik, barang-barang bekas,
koran, majalah, perabot-perabot rumah tangga, pasar, toko, TV, radio,
internet, dan sebagainya. Guru dan buku bukan merupakan sumber dan
media sentral, demikian pula guru tidak dipandang sebagai orang yang serba
tahu, sehingga guru tidak perlu khawatir menghadapi berbagai pertanyaan
iswa yang terkait dengan lingkungan baik tradisional maupun modern.
Seperti yang dikemukakan di muka, dalam pembelajaran kontekstual
tes hanya merupakan sebagian dari teknik/ instrumen penelitian yang
bermaca-macam seperti wawancara, observasi, inventory, skala sikap,
penilaian kinerja, portofolio, jurnal siswa, dan sebagainya yang semuanya
disinergikan untuk menilai kemampuan siswa yang sebenarnya (autentik).
Penilainya bukan hanya guru saja tetapi juga diri sendiri, teman siswa, pihak
lain (teknisi, bengkel, tukang dsb.). Saat penilaian diusahakan pada situasi
yang autetik misal pada saat diskusi, praktikum, wawancara di bengkel,
kegiatan belajar-mengajar di kelas dan sebagainya.siswa.
Dalam pembelajaran kontekstual rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) sebenarnya lebih bersifat sebagai rencana pribadi dari pada sebagai
laporan untuk kepala sekolah atau pengawas seperti yang dilakukan saat ini.
Jadi RPP lebih cenderung berfungs mengingatkan guru sendiri dalam
menyapkan alat-alat/media dan mengendalikan langkah-langkah (skenario)
pembelajaran sehingga bentuknya lebih sederhana.
Beberapa model pembelajaran yang meruapakan aplikasi
pembelajaran kontekstual antara lain model pembelajaran langsung (direct
instruction), pembelajaran koperatif (cooperatif learning), pembelajaran
berbasis masalah ( problem based learning).
- Model Pembelajaran Langsung : Inti dari model pembelajaran langsung adalah guru mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan tertentu, selanjutnya melatihkan keterampilan tersebut selangkah demi selangkah kepada siswa.eran guru pada tiap fase.Model pembelajaran ini cenderung berpusat pada guru, sehingga sebagian besar siswa cenderung bersikap pasif, maka perencanaan dan pelaksanaan hendaknya sangat hati-hati. Sistem pengelolaan permbelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin keterlibatan seluruh siswa khususnya dalam memperhatikan, mendengarkan, dan resitasi (tanya jawab). Pengaturan lingkungan mengacu pada tugas dan memberi harapan yang tinggi agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran.
2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Inti dari pembelajaran berbasis masalah adalah guru menghadapkan
siswa pada situasi masalah kehidupan nyata (autentik) dan bermakna,
memfasilitasi siswa untuk memecahkannya melalui penyelidikan/ inkuari dan
kerjasama, memfasilitasi dialog dari berbagai segi, merangsang siswa untuk
menghasilkan karya pemecahan dan peragaan hasil.
Rasional teoritik yang melandasi model ini adalah teori
konstruktivisme Piaget dan Vigotsky, serta teori belajar penemuan dari
Bruner. Menurut teori konstruktivisme pengetahuan tidak dapat ditransfer
dari guru ke siswa seperti menuangkan air dalam gelas, tetapi siswa
mengkonstruksi sendiri pengetahuannya melalui proses intra-individual
asimilasi dan akomodasi (menurut Piaget) dan proses inter-individual atau
sosial (menurut Vigotsky). Menurut Bruner belajar yang sebenarnya terjadi
melalui penemuan, sehingga dalam proses pembelajaran hendaknya banyak
menciptakan peluang-peluang untuk aktivitas penemuan siswa.
Tujuan yang dapat dikembangkan melalui model pembelajaran ini
adalah keterampilan berfikir dan pemecahan masalah, kinerja dalam
menghadapi situasi kehidupan nyata, membentuk pebelajar yang otonom dan
mandiri.
3. Model Pembelajaran Koperatif
Inti model pembelajaran koperatif adalah siswa belajar dalam
kelompok-kelompok kecil, yang anggota-anggotanya memeliki tingkat
kemampuan yang berbeda (heterogen). Dalam memahami suatu bahan
pelajaran dan menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling
bekerjasama sampai seluruh anggota menguasai bahan pelajaran tersebut.
Dalam variasinya ditemui banyak tipe pendekatan pembelajaran koperatif
misalnya STAD (Student Teams Achievement Division), Jigsaw, Investigasi
Kelompok, dan Pendekatan Struktural, namun tidak dikemukakan dalam
materi diklat ini.
Rasional teoritik yang melandasi model ini adalah teori konstruktivisme
Vigotsky yang menekankan pentingnya sosiokultural dalam proses belajar
seperti tersebut di muka, dan teori pedagogi John Dewey yang menyatakan
bahwa kelas seharusnya merupakan miniatur masyarakat dan berfungsi
sebagai laboratorium untuk belajar kehidupan nyata. Guru seharusnya
menciptakan di dalam lingkungan belajarnya suatu sistem sosial yang
bercirikan demokrasi dan proses ilmiah.
Tujuan yang dapat dicapai melalui model pembelajaran ini adalah hasil
belajar akademik yakni penguasaan konsep-konsep yang sulit, yang melalui
kelompok koperatif lebih mudah dipahami karena adanya tutor teman
sebaya, yang mempunya orientasi dan bahasa yang sama. Disamping itu
hasil belajar keterampilan sosial yang berupa keterampilan koperatif
(kerjasama dan kolaborasi) juga dapat dikembangkan melalui model
pembelajaran ini.
kolaboratif
Gokhale mendefinisikan bahwa“collaborative learning” mengacu pada metode pengajaran di mana siswa dalam satu kelompok yang bervariasi tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang mengarah pada tujuan bersama. Pengertian kolaborasi sendiri yaitu:
- Keohane berpendapat bahwa kolaborasi adalah bekerja bersama dengan yang lain, kerja sama, bekerja dalam begian satu team, dan di dalamnya bercampur didalam satu kelompok menuju keberhasilan bersama.
- Patel berpendapat bahwa kolaborasi adalah suatu proses saling ketergantungan fungsional dalam mencoba untuk keterampilan koordinasi, to coordinate skills, tools, and rewards.
Dari pengertian kolaborasi yang diungkapkan oleh berbagai ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar kolaborasi adalah suatu strategi pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil kearah satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif untuk mencapai kesuksesan.
Belajar kolaboratif menuntut adanya modifikasi tujuan pembelajaran dari yang semula sekedar penyampaian informasi menjadi konstruksi pengetahuan oleh individu melalui belajar kelompok. Dalam belajar kolaboratif, tidak ada perbedaan tugas untuk masing-masing individu, melainkan tugas itu milik bersama dan diselesikan secara bersama tanpa membedakan percakapan belajar siswa.
Dari uraian diatas, kita bisa mengetahui hal yang ditekankan dalam belajar kolaboratif yaitu bagaimana cara agar siswa dalam aktivitas belajar kelompok terjadi adanya kerjasama, interaksi, dan pertukaran informasi.
Selain itu, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut :
- Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para siswa.
- Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama.
- Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.
- Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.
- Mengembangkan berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah.
- Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang.
- Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.
- Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan di antara siswa dan guru.
- Membangun semangat belajar sepanjang hayat.
C. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif.
- Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
- Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis..
- Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
- Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
- Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
- Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
- Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
- Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
D. MACAM-MACAM PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahliStudent Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:
- Learning Together
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
- Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
- Group Investigation (GI)
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
- Academic-Constructive Controversy (AC)
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
- Jigsaw Proscedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
- Student Team Achievement Divisions (STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
- Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
- Team Accelerated Instruction (TAI)
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
- Cooperative Learning Stuctures (CLS)
Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee.Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawabantutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
- Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.
Keterampilan yang dibutuhkan oleh peserta yang berpartisipasi dalam model pembelajaran kolaboratif adalah:
- Pembentukan kelompok
- Bekerja dalam satu kelompok
- Pemecahan masalah kelompok
- Manajemen perbedaan kelompok
Menurut Reid (2004) dalam menggembangkan collaborative learningada lima tahapan yang harus dilakukan, yaitu:
1. Engagement
Pada tahap ini, pengajar melakukan penilaian terhadap kemampuan, minat, bakat dan kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Lalu, siswa dikelompokkan yang di dalamnya terdapat siswa terpandai, siswa sedang, dan siswa yang rendah prestasinya.
2. Exploration
Setelah dilakukan pengelompokkan, lalu pengajar mulai memberi tugas, misalnya dengan memberi permasalahan agar dipecahkan oleh kelompok tersebut. Dengan masalah yang diperoleh, semua anggota kelompok harus berusaha untuk menyumbangkan kemampuan berupa ilmu, pendapat ataupun gagasannya.
3. Transformation
Dari perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa, lalu setiap anggota saling bertukar pikiran dan melakukan diskusi kelompok. Dengan begitu, siswa yang semula mempunyai prestasi rendah, lama kelamaan akan dapat menaikkan prestasinya karena adanya proses transformasi dari siswa yang memiliki prestasi tinggi kepada siswa yang prestasinya rendah.
4. Presentation
Setelah selesai melakukan diskusi dan menyusun laporan, lalu setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Pada saat salah satu kelompok melakukan presentasi, maka kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi.
5. Reflection
Setelah selesai melakukan presentasi, lalu terjadi proses Tanya-jawab antar kelompok. Kelompok yang melakukan presentasi akan menerima pertanyaan, tanggapan ataupun sanggahan dari kelompok lain. Dengan pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain, anggota kelompok harus bekerjasama secara kompak untuk menanggapi dengan baik.
Brandt (2004) menekankan adanya lima elemen dasar yang dibutuhkan agar kerjasama dalam proses pembelajaran dapat sukses, yaitu :
1. Possitive interdependence (saling ketergantungan positif)
Yaitu siswa harus percaya bahwa mereka adalah proses belajar bersama dan mereka peduli pada belajar siswa yang lain. Dalam pembelajaran ini setiap siswa harus merasa bahwa ia bergantung secara positif dan terikat dengan antarsesama anggota kelompoknya dengan tanggung jawab menguasai bahan pelajaran dan memastikan bahwa semua anggota kelompoknya pun menguasainya. Mereka merasa tidak akan sukses bila siswa lain juga tidak sukses.
2. Verbal, face to face interaction(interaksi langsung antarsiswa)
Yaitu hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan adanya komunikasi verbal antarsiswa yang didukung oleh saling ketergantungan positif. Siswa harus saling berhadapan dan saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar. Siswa juga harus menjelaskan, berargumen, elaborasi, dan terikat terhadap apa yang mereka pelajari sekarang untuk mengikat apa yang mereka pelajari sebelumnya.
3. Individual accountability(pertanggungjawaban individu)
Yaitu setiap kelompok harus realis bahwa mereka harus belajar. Agar dalam suatu kelompok siswa dapat menyumbang, mendukung dan membantu satu sama lain, setiap siswa dituntut harus menguasai materi yang dijadikan pokok bahasan. Dengan demikian setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari pokok bahasan dan bertanggung jawab pula terhadap hasil belajar kelompok.
4. Social skills (keterampilan berkolaborasi)
Yaitu keterampilan sosial siswa sangat penting dalam pembelajaran. Siswa dituntut mempunyai keterampilan berkolaborasi, sehingga dalam kelompok tercipta interaksi yang dinamis untuk saling belajar dan membelajarkan sebagai bagian dari proses belajar kolaboratif. Siswa harus belajar dan diajar kepemimpian, komunikasi, kepercayaan, membangun dan keterampilan dalam memecahkan konflik.
5. Group processing (keefektifan proses kelompok)
Yaitu kelompok harus mampu menilai kebaikan apa yang mereka kerjakan secara bersama dan bagaimana mereka dapat melakukan secara lebih baik. Siswa memproses keefektifan kelompok belajarnya dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak serta membuat keputusan-keputusan tindakan yang dapat dilanjutkan atau yang perlu diubah.
Tiga pola pengelompokkan, yaitu:
1. The two-person group (tutoring)
Yaitu satu orang ditugasi mengajar yang lain. Jadi, siswa dapat berperan sebagai pengajar yang disebut tutor, sedangkan siswa yang lain disebut tutee.
2. The small group (interactive recitation; discussion)
Adalah cara penyampaian baha pelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan masalah.
3. Small or large group (recitation)
Yaitu suatu metode mengajar dan pengajar memberikan tugas untuk mempelajari sesuatu kepada pembelajar, kemudian melaporkan hasilnya. Tugas-tugas yang diberikan oleh pengajar dapat dilaksanakan di rumah, sekolah, perpustakaan, laboratorium, atau di tempat lain.
Karakteristik dalam belajar kolaboratif adalah :
- Siswa belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa ketergantungan dalam proses belajar, penyelesaian tugas kelompok mengharuskan semua anggota bekerja bersama.
- Interaksi intensif secara tatap muka antar anggota kelompok.
- Masing-masing siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang telah disepakati.
- Siswa harus belajar dan memiliki ketrampilan komunikasi interpesonal.
- Peran guru sebagai mediator.
- Adanya sharing pengetahuan dan interaksi antara guru dan siswa, atau siswa dan siswa.
- pengelompokkan secara heterogen.
DISKUSI:
1. apakah model pembelajaran kontektual bagus digunakan untuk anak sekolah dasar?
2. telah disebutkan di atas bahwa pelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan
1. apakah model pembelajaran kontektual bagus digunakan untuk anak sekolah dasar?
2. telah disebutkan di atas bahwa pelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan
materi pembelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja, sehingga siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan
melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran yakni : kontruktivisme(constructivism), bertanya (questioning), menyelidiki (inquiry), masyaraka belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), danpenilaian autentik (authentic assessment). nah jika salah satu tidak dilakukan siswa apakah model ini akan berjalan dg baik?
3. kolaboratif dituntut untuk bekerjasama dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama, nah pada kenyataan yg ada, dan bahkan sering terjadi, bahwa sebagian siswa hanya mengandalkan teman sekelomponya, bagaimana solusinya para guru menyikapi siswa tersebut?
3. kolaboratif dituntut untuk bekerjasama dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama, nah pada kenyataan yg ada, dan bahkan sering terjadi, bahwa sebagian siswa hanya mengandalkan teman sekelomponya, bagaimana solusinya para guru menyikapi siswa tersebut?
sumber
https://www.google.com/amp/s/kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/27/collaborative-learning/amp/?espv=1
Berdasarkan ulasan saudari diatas, saya sangat tertarik utk menanggapi pertanyaan yg no.3 maka sebaiknya guru melakukan inovasi dlam pembelajaran tsb dg cara sbb :
BalasHapus1. Dibentuknya ketua kelompok
2. Masing" anggota kelompok mendapatkan pembagian materi bahasan
3. Waktu persentase sebaiknya dibagi juga poin per point, masing" anggota mempersentasekan materi yg dibuatnya
4. Ada anggota yg bertugas utk menjawab pertanyaan
5. Ada anggota yg menjadi notulensi
6. Ada anggota yg menjadi moderator sekaligus menyimpulkan dr materi pembelajaran yg dilaksanakan hari itu.jadi semuanya akan menjadi aktif didlam proses pembelajaran tsb
Terimakasih
Baik di sini ysaya tertarik akan soal nomor 3 yaitu tentang kerja kElompok .dan emang faktanya sering kali dalam kelompok hanya beberapa orang yang bekerja dan sebagian hanya menjadi penonton saja dan hanya meng iyakan.dan solusi seorang guru menyikapi masalah tersebut guru harus lebih tegas dalam nilai saat kerja kelompok bukan kekompaapkan saja yang di perlukan namun juga nilai individu nah saat itulah anak di tuntut aktif demi nilai yang di target kan seorang guru...Terhafap penilaian individu seotang siswa dalam berkelompok
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab nomor satu.
BalasHapusMenurut saya, model pembelajaran kontekstual sudah bisa di terapakan di pendidikn dasar. Karna pemberian contoh yang mudah dan nyata dalam kehidupan sehari hari nya. Misalkan soal matematika. 1 bola + 1 kelereng berapo jumlahnya ?
Sya akan menjawab pertanyaan no 1. Menurut pendapat sya pembeljaran kontekstual bagus untuk sekolah dasar terutama untk ank kls 1 krn siswa kls 1 itu akan lebih mudah memahami soal dan menjawab nya apabila kita memberikan contoh yg real dalam kehidupan shari hari, contoh : ani mempunyai 5 permen kemudian ani memberikan 3 permen nya kepada afifah, tinggal brp permen yg dimiliki ani ?
BalasHapusDisini saya ingin mempertanyakan untuk penerapan pembelajaran kontekstual, di postingan anda menyatakan bahwa pembelajaran konstekstual adalah pembelajaran yang mengaitkan dunia nyata dengan materi yang sedang dipelajari. Disini pertanyaan saya apakah penerapan dengan pembelajaran ini bisa di terapkan disetiap sekolah termasuk sekolah luar biasa?
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3
BalasHapusSeorang guru harus mampu memahami setiap karakteristik siswa, khususnya bagi siswa yang membutuhkan perhatian lebih didalam kegiatan belajar mengajar. Contoh nya siswa yabg pasif.. dan pada saat diskusi hanya mengandalkan siswa yg aktif. Hal demikian dapat d atasi dengan :
1. Memberi Sentuhan pada Titik Peka Anak
2. Mengembangkan rasa percaya diri anak
3. Memberikan pertanyaan atau stimilus kepada siswa dan memberikan penghargaan atau penghormatan kepada siswa yang bisa menjawab pertanyaan itu.
4. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
Terimakasih
Saya tertarik dengan pertanyaan no 1.
BalasHapusMenurut saya pembelajaran kontekstual bisa diterapkan di sekolah dasar, karena dalam pembelajaran ini siswa akan lebih mudah memahami materi pembelajaran apabila dikaitkan dengan dunia nyata seperti lingkungan sekitar peserta didik.
Suka sama artikelnya sangat membantu. Materi pelajaran apa saja ya yang bisa diterap model pembelajaran kontekstual dan kolaboratif. Mohon sarannya terima kasih
BalasHapusSaya menanggapi ptanyaan no.2 . Mnurut saya tidak . Karena 7 komponen itu adalah sintax atau langkah langkah dari model kontekstual. Jd jika salah satu tidak dilaksanan maka model itu tidak berjalan sempurna.
BalasHapusMenurut saya utk mengoptimalkan prosesnya di permasalah nomor 3 itu lah fungsi guru sebagai fasilitator dan juga motivator pada prosesnya
BalasHapusUntuk soal nomor 1, menurut saya model ini sangat cocok diterapkan di sd,
BalasHapuspertanyaan no 1 menurut saya model ini juga sangat cocok digunakan di SD, sehingga pembelajaran lebih bermakna
BalasHapusSaya mencoba menjawan pertanyaan ni 1. Ya sdh bisa d terapkan d sekolah dasar. Karna akan memudahkan siswa u/ memahami ap yg d jelaskan oleh guru. Misalnya pada mata pelajaran ipa. Mengenai lingkungan
BalasHapusTerimakasih
Menangapi soal nomor satu pembelajaran ini bagus di terapkan di sekolah dasar karna mampu menunjang daya pikir yang lebih Lagi dan mampu memudahkan siswa siswi memhami apa yang di sampaikan guru
BalasHapusSaya setuju dengan saudari laila.
HapusSebelumnya untuk sekedar mengulas kembali konstektual ini sering disebut dengan model CTL. Dimana model CTL ini model pembelajaran yang mengaitkan dunia nyata dengan materi yang dibahas. Sehingga siswa yang diterapkan model pembelajaran ini di harapkan dapat mengerti dan dapat meningkatkan daya ingat nya.
Menangapi soal nomor satu pembelajaran ini bagus di terapkan di sekolah dasar karna mampu menunjang daya pikir yang lebih Lagi dan mampu memudahkan siswa siswi memhami apa yang di sampaikan guru
BalasHapussaya setuju dengan lailatul hairi,bahwa model kontekstual cocok digunakan di sd karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari
Hapusmenurut saya model ini juga sangat cocok digunakan di SD, sehingga pembelajaran lebih bermakna
BalasHapusMenurut saya model ini cocok untuk di gunakan tingkat SD
BalasHapusMenurut saya model ini cocok untuk di gunakan tingkat SD
BalasHapussetuju dengan komentar Saudari Putri Prabowo bahawa model tsb bisa diterpakan di Sekolah Dasar
Hapussaya akan menanggapi pertanyaan no 3 tentang peran guru dalam menyikapi siswa yang tidak bekerja dalam kelompok yaitu siswa harus mengetahui semua tentang yang dibahas dalam kelompoknya dan perlunya kerjasama antara siswa dalam satu kelompok
BalasHapusSaya akan menjawap pertanyaan nomor 1
BalasHapusMenurut saya pembelajaran kontekstual bagus diterapkan untuk siswa sekolah dasar.
Karena memang pada dasarnya di sekolah dasar pembelajaran memang hatus dikaitkan dengan kehidupan nyata. Dengan ini mampu menarik perhatian siswa dalam belajar. Pembelajaranpun akan terasa bermakna dan menyenangkan.